Setiap kali produk baru dipasarkan biasanya ada sekelompok konsumen yang membeli produk tersebut lebih cepat daripada konsumen lainnya. Kelompok konsumen seperti ini disebut inovator. Seiring dengan waktu, para inovator ini akan mempengaruhi calon konsumen lain untuk mencoba membeli produk tersebut. Konsumen patensial yang mendapat pengaruh dari inovator untuk membeli produk baru disebut imitator. Besarnya pengaruh inovator terhadap imitator akan sangat tergantung pada kategori produk dan siapa yang menjadi inovator. Apabila yang menjadi inovator adalah opinion leader atau reference group (misalnya celebrities), maka pengaruhnya akan besar sekali. Tipe inovator seperti ini akan mempercepat penyebaran informasi dan pembelian produk baru tersebut.
Produsen selama ini menggunakan figur opinion leader sebagai model iklan produk baru mereka. Di Jepang figur kharisma anak muda seperti Hamasaki Ayumi sudah menjadi langganan model iklan produk-produk baru yang ditargetkan untuk anak muda. Tetapi promosi produk baru lewat iklan dengan model terkenal biasanya membutuhkan biaya yang sangat besar. Produsen bukan saja harus membayar biaya pembuatan dan penayangan iklan, tetapi mereka juga harus membayar biaya kontrak dengan celebrity yang menjadi model iklan mereka.
Akhir-akhir ini para praktisi di Amerika mengembangkan cara promosi baru dengan menggunakan ketenaran atau kharisma celebrity dengan biaya jauh lebih murah. Caranya ialah dengan membagikan produk mereka secara cuma-cuma kepada celebrities yang menjadi tamu pada event-event tertentu seperti penganugrahan Piala Oscar, pesta celebrities, pesta launching acara TV baru dll. Produk-produk yang dibagikan dikemas dalam sebuah tas yang menarik dan bermerk yang disebut Swag Bag. Celebrities yang menghadiri event-event seperti ini biasanya menjadi pusat perhatian dan muncul di berbagai media massa. Konsekuensinya, swag bag yang mereka terima ikut terekspos di media massa. Dengan demikian produsen bisa mempromosikan produknya tanpa harus mengeluarkan biaya iklan. Di Amerika umumnya produsen bekerja sama dengan perusahaan iklan seperti H&S dan Backstage Creations dalam membuat rencana dan pelaksanaan promosi lewat pembagian swag bag.

Produsen mobil Amerika, Ford Motor, menggunakan cara lain yang unik yang prinsipnya sama dengan pembagian swag bag untuk mempromosikan mobil mewah mereka Jaguar. Mereka meminjamkan mobil mewah Jaguar kepada beberapa celebrities muda dengan cuma-cuma. Celebrities muda yang menjadi target bebas menggunakan mobil itu untuk keperluan apa saja. Hanya saja mereka diminta untuk memarkir mobil itu di tempat yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Dengan cara ini Ford berharap bisa membentuk image mobil Jaguar sebagai mobilnya celebrities muda yang sukses. Cara seperti ini tentu saja jauh lebih murah daripada membuat iklan.
Tapi perlu dicatat bahwa effektifitas cara promosi seperti ini masih belum jelas. Yang jelas banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilannya. Salah satunya adalah kategori produk yang dipromosikan. Untuk produk-produk kebutuhan sehari-hari atau produk industri sepertinya cara seperti kurang effektif. Cara seperti ini akan cocok untuk produk-produk yang berhubungan dengan fashion atau produk-produk untuk memenuhi kebutuhan self-esteem. Publikasi media massa juga merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan promosi dengan cara ini. Apabila eksposure celebrities yang menerima swag bag di media massa kurang, maka effeknya pun akan terbatas.



Waktu masih kuliah di Sendai, saya sering memperhatikan perilaku belanja istri kawan-kawan sesama mahasiswa. Salah satu yang menarik adalah bagaimana ibu-ibu tsb memilih tempat belanja untuk keperluan sehari-hari. Ada kecenderungan mereka untuk memilih supermarket yang sedang mendiskon telur. Biasanya telur didiskon menjadi sekitar 88 yen dengan syarat pembeli hanya diperbolehkan membeli paling banyak 2 pack/orang. Kadang-kadang ada yang mengajak suami atau anaknya untuk ikut berbelanja sehingga bisa membeli telur itu lebih dari 2 pack. Bahkan ada yang pulang pergi ke supermarket yang sama hanya untuk mendapatkan telur dan kemudian menyetoknya di rumah.
Salah satu cara untuk mengkomunikasikan suatu brand terhadap konsumen adalah publikasi. Cara komunikasi ini unik karena yang melaksanakannya bukanlah perusahaan pemilik brand melainkan pihak ke 3 yang mengangkat isu tentang kualitas atau karakter brand tersebut untuk tujuan tertentu. Misalnya majalah wanita yang mengangkat isu tentang keunggulan suatu brand bahan makanan. Menurut Philip Kotler, informasi melalui publikasi relatif lebih mudah dipercaya oleh konsumen karena sumber informasi itu adalah pihak ke 3 yang tidak ada hubungannya dengan produsen brand yang bersangkutan.






Komentar Terakhir