Dibalik Slogan “Dijamin Paling Murah”

10 10 2007

kojimaBanyak penjual (retailer&wholesaler) yang berusaha membuat image toko mereka sebagai toko yang menjual barang dengan murah. Tujuannya lain tidak lain untuk menarik konsumen membelanjakan uangnya di toko mereka. Salah satu caranya ialah dengan cara membuat slogan “jaminan harga termurah”. Penjual menjamin bahwa harga produk yang mereka jual adalah yang paling murah dibanding yang dijual di toko lain. Dan apabila konsumen yang membeli produk mereka menemukan produk yang sama dijual lebih murah di toko lain, penjual akan mengembalikan selisih harga tersebut kepada konsumen. Di Jepang banyak sekali penjual yang memakai slogan seperti ini. Dari mulai toko furniture, toko elektronik, sampai hotel. Yang paling menonjol adalah toko elektronik, seperti Yamada Denki dan Kojima Denki, bahkan Kojima Denki memakai slogan “Toko Paling Murah di Dunia”.

Dengan dibuatnya slogan seperti ini, banyak konsumen terpengaruh persepsinya. Sebuah riset yang dilakukan oleh dua peneliti dari Maryland University menunjukan bahwa banyak kosumen yang percaya dan menggangap toko yang memakai slogan itu lebih murah daripada toko lainnya. Tapi benarkah toko yang memakai slogan toko termurah menjual semua produknya lebih murah daripada toko lainnya?. Tampaknya tidak demikian. Dari beberapa penelitian, tidak semua toko yang memakai slogan toko termurah menjual semua barangnya lebih murah daripada toko lain. Bahkan ada kasus yang sebaliknya.

Peneliti dari California dan North Carolina University menyimpulkan bahwa pemakaian slogan ini memberi pengaruh yang sebaliknya. Pertama pemakaian slogan toko termurah ini menyebabkan dispersi harga di toko-toko semakin kecil. Artinya toko-toko cenderung menjual produknya dengan harga yang hampir sama. Kedua, pemakaian slogan ini menyebabkan harga berada pada level yang tinggi. Pemakaian slogan ini sebenarnya bukan merupakan pesan kepada konsumen bahwa toko mereka adalah toko termurah, melainkan pesan(baca ancaman) kepada toko-toko kompetitornya. “Kalau Anda berani menurunkan harga, kami siap menurunkan harga di bawah harga Anda”. Akibatnya toko-toko akan berpikir beribu kali apabila ingin menurunkan harga karena takut terjerumus ke “perang harga”. Dan akibat selanjutnya adalah harga berhenti pada level yang tinggi. Beberapa peneliti menganggap akibat yang kedua ini bisa melanggar hukum monopoli karena bentuknya mirip kartel yang menghambat persaingan sehat.

Akhir-akhir ini banyak yang mempertanyakan effektivitas dari slogan ini. Alasannya adalah bermunculannya  situs yang memberikan informasi harga. Dalam situs itu sering toko yang tidak memakai slogan toko termurah malah menjual produknya lebih murah daripada toko-toko lain. Akibatnya konsumen jadi kurang percaya dengan slogan-slogan toko termurah. Alasan kedua adalah bahwa konsumen tidak hanya menggunakan harga sebagai parameter dalam menilai murah atau mahalnya sebuah toko, tetapi parameter lain seperti cara pembayaran, after service, pelayanan, sistem pengiriman dll juga merupakan faktor penting dalam membuat image sebuah toko.





Tambah Halaman Info Harga

2 10 2007

Dua hari yang lalu saya tambah halaman dengan nama Info Harga. Di halaman ini dimuat link harga-harga barang dari situs berbahasa Jepang (kakaku.com). Latar belakang pembuatan halaman ini adalah banyaknya orang yang mengakses KMD lewat mesin pencari dengan kata kunci “harga”. Selain untuk melihat info harga, halaman ini juga bisa digunakan untuk memonitor produk-produk baru. Umumnya harga di Jepang lebih mahal dari harga di Indonesia. Namun demikian, ada beberapa produk yang harganya lebih mahal di Indonesia. Ada kemungkinan selisih ini berasal dari biaya distrbusi (biaya kirim dll), atau ada kemungkinan juga penjual Indonesia terlalu banyak mengambil untung :). Saya persilahkan untuk mencheck harga produk-produk yang menarik bagi Anda. Untuk situs info harga yang berbahasa Inggris bisa dilihat di URL di bawah ini.

http://www.buy.com/   
http://www.price.com/
http://www.pricerunner.com/
http://www.pricegrabber.com/
http://www.mysimon.com/
http://www.pricingcentral.com/





Sport club, bayar kontan atau cicilan

25 09 2007

workoutBulan November ini di dekat rumah dibuka sport club baru. Bangunannya cukup besar dan bertingkat 4. Lantai 1 dan 2 digunakan untuk tempat parkir yang bisa menampung 135 mobil. Di lantai 3 ada tempat fitness, studio aerobik, dan tempat latihan golf. Di lantai 4 ada kolam renang, lounge, sauna, dan tempat mandi air panas. Bagi saya yang perutnya sudah mulai buncit :), sport club ini mempunyai daya tarik tersendiri. Hanya sayang, biaya anggota (membership fee)-nya cukup mahal, sekitar 10.000 yen (sekitar Rp800 ribu) per bulan. 

Bicara tentang membership fee sebuah sport club, ada hal yang menarik yang berhubungan dengan pola konsumsi konsumen. Bayangkan Anda adalah seorang manager sebuah  sport club, cara pembayaran manakah dibawah ini yang akan Anda berlakukan:

1. Meminta anggota membayar biaya keanggotaan pertahun secara kontan di saat pendaftaran.

2. Anggota diperbolehkan membayar biaya keanggotaan secara cicilan setiap bulan.

Secara sepintas pilihan nomor satu kelihatan lebih menguntungkan karena bisa memperbaiki cash flow perusahaan. Tapi jawaban yang benar adalah nomor 2. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan mengapa jawaban nomor 2 bisa menguntungkan bagi perusahaan sport club.

Sebelum menjelaskan jawaban di atas, saya ingin mengingatkan bahwa setiap kali kita mengeluarkan uang untuk mendapatkan barang atau jasa, selain kepuasan dari hasil memperoleh barang dan jasa tersebut, juga secara psikologis timbul “rasa sakit” akibat biaya yang dikeluarkan. Timbulnya kesadaran akan biaya yang dikeluarkan ini akan mempengaruhi konsumsi kita terhadap barang atau jasa yang telah kita beli. Semakin besar kesadaran seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk menkonsumsi barang tersebut. Misalnya Anda makan direstoran yang meminta Anda membayar Rp100 ribu tapi Anda bisa makan sepuas-puasnya ( di Jepang dikenal dengan nama Tabehoudai). Kemungkinan besar Anda akan makan sebanyak mungkin sehingga makanan yang Anda makan minimal senilai Rp100 ribu (balik modal). Gejala seperti ini dikenal dengan sunk cost effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk tidak menyia-nyiakan uang yang telah dia keluarkan.

Contoh dari effect ini adalah hasil penelitian pakar behavoral economics, Richard Sailor, yang meneliti perilaku seorang laki-laki yang masuk menjadi anggota klub tenis dengan biaya anggota $300/tahun. Setelah dua minggu masuk klub itu, si laki-laki tadi mengalami cedera lutut. Tapi karena tidak mau menyia-nyiakan $300 yang sudah dia bayar, dia meneruskan latihan secara rutin dengan menahan rasa sakit di lututnya. Dalam penelitian lain oleh ahli psikologi dari Universitas Ohio, responden dikondisikan sebagai berikut. Responden diasumsikan membuat kekeliruan dengan terlanjur memesan tiket masuk dua lapangan ski dalam waktu yang sama dan tidak bisa dibatalkan. Harga tiket lapangan yang pertama adalah $100, sedang lapangan yang kedua adalah $50. Responden diberi tahu bahwa lapangan kedua lebih menarik dari lapangan pertama walaupun harganya lebih murah. Kemudian responden disuruh memilih lapangan manakah yang akan mereka kunjungi. Hasilnya cukup mengejutkan, lebih dari separuh responden memilih untuk pergi ke lapangan pertama walaupun lapangan yang kedua lebih menarik.

Tingkat konsumsi seseorang terhadap barang yang dibelinya sangat penting bagi perusahaan. Tingkat konsumsi akan mempengaruhi apakah seorang konsumen akan membeli barang yang sama di masa depan. Contohnya ada dua orang yang berlangganan koran A dan B. Si A selalu membaca koran yang dibelinya dan sebaliknya si B kurang membaca koran yang dibelinya. Di masa depan kemungkinan besar si B akan berhenti berlangganan, sedangkan si A akan terus berlangganan. Tingkat konsumi juga akan mempengaruhi ketergantungan seseorang terhadap produk tertentu yang bisa menyebabkan dia sulit untuk pindah ke produk lain (switching cost). Contohnya bagi orang yang sering dan terbiasa memakai Microsoft Excell, akan menemukan beberapa kesulitan ketika harus menggunakan software SPSS.

Lalu, apa hubungan semua ini dengan pertanyaan biaya keanggotaan sport club diatas. Penjelasannya seperti ini. Apabila Anda meminta anggota untuk membayar biaya keanggotaan secara kontan, maka akan timbul kesadaran biaya yang mendorong dia untuk menggunakan sport club tersebut. Tapi kesadaran biaya ini akan terus menurun seiring dengan waktu karena selama setahun tersebut tidak ada pengeluaran yang harus dibayar anggota. Anggota bahkan bisa lupa dia pernah membayar banyak untuk masuk sport club tersebut. Akibatnya tingkat konsumsi anggota akan menurun seiring dengan waktu. Atau dengan kata lain, anggota hanya datang bulan-bulan pertama saja, dan setelah itu jarang sekali datang ke sport club.

Di lain pihak, apabila Anda meminta anggota untuk membayar biaya keanggotaan per bulan, maka setiap bulan anggota harus mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayarnya. Ini berarti setiap bulan akan timbul kesadaran biaya yang dikeluarkan yang mendorong dia untuk terus menggunakan sport club sepanjang tahun. Akibatnya tingkat konsumsi akan lebih tinggi ketika kita meminta anggota untuk membayar biaya keanggotaan perbulan daripada ketika meminta mereka membayar kontan. Seperti yang saya jelaskan diatas bahwa tingkat konsumsi akan mempengaruhi pembelian dimasa depan, maka kemungkinan besar anggota akan memperpanjang keangotaannya ketika cara pembayaran nomor 2 diberlakukan dibandingkan dengan cara nomor 1.

Supaya tidak bingung, alur dari artikel kali ini adalah sbb:

Cara pembayaran => Kesadaran Biaya => Tingkat Konsumsi => Keanggotaan (terus atau berhenti)

Hanya harus hati-hati juga. Untuk kasus cara pembayaran premium asuransi, akan lebih baik dilakukan dengan cara membayar premium pertahun secara kontan di muka. Kenapa, saya kira Anda bisa menjawabnya.





Harga tetap isi berkurang

20 09 2007

Ada permintaan dari seorang kawan untuk menulis tentang tema “harga tetap isi berkurang”. Saya yakin kebanyakan orang pasti punya pengalaman seperti ini. Ketika membeli snack, tidak seperti biasanya, isinya kali ini terasa sedikit. Kalau menemukan hal seperti ini, hampir bisa dipastikan produsen mengurangi volume produk snack tersebut. Mari kita lihat latar belakang, reaksi konsumen, dan pengaruh dari pengurangan isi produk ini.

Ada beberapa alasan yang membuat produsen mengurangi volume produk mereka tanpa merubah harga. Misalnya untuk menaikan profit atau sebagai kebijaksanaan akibat kenaikan harga ongkos produksi. Di Jepang akhir-akhir ini, beberapa produk mengalami pengurangan isi karena naiknya biaya BBM. Contohnya produk coklat DARS dari Morinaga, sejak bulan ini mengalami penurunan dari 50 gram menjadi 48 gram (lihat gambar). Lotte mengurangi isi produk coklatnya GHANA dari 75 gram menjadi 70 gram. Begitu juga dengan Meiji yang menurunkan isi produk Almond Choco dari 130 gram menjadi 105 gram.

Choco

Bagi konsumen sendiri, penurunan volume produk ini sebenarnya adalah salah satu bentuk dari KENAIKAN HARGA. Hanya bedanya dengan kenaikan harga biasa dengan cara menaikan nominal yang harus dibayar konsumen, kenaikan harga dengan cara mengurangi isi produk relatif lebih sulit dideteksi oleh konsumen. Konsekuensinya, produsen bisa meredam reaksi negatif dari konsumen atas kenaikan harga ini.

Lalu mengapa konsumen relatif lebih sulit mendeteksi kenaikan harga suatu produk dengan cara pengurangan isinya. Saya kira penjelasan ada pada mekanisme proses kognisi konsumen dalam mencerna informasi kenaikan harga ini. Pada kasus kenaikan harga biasa, konsumen dengan mudah mengenali kenaikan harga ini karena kenaikannya bisa dilihat dengan visual (dengan cara melihat label harga). Informasi dengan cepat diproses secara kognitif oleh konsumen dan kemudian informasi itu mempengaruhi sikap konsumen. Singkatnya, kenaikan harga biasa langsung bisa dikenali dan mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen. Misalnya dengan cara tidak membeli, mengurangi pembelian, atau menunda pembelian produk tersebut.

Di lain pihak, pengurangan isi produk sulit dilihat secara visual oleh konsumen. Walaupun di setiap produk tercantum berat isinya, biasanya konsumen kurang memperhatikan bagian itu. Sekalipun konsumen sadar bahwa isinya berkurang, proses kognisinya akan sulit mencerna berapa kenaikan harga yang diakibatkan pengurangan isi produk tersebut. Misalnya ada coklat 100 gram dengan harga 100 yen. Daripada menaikan harganya 10% menjadi 110 yen, produsen mengurangi isinya menjadi 90 gram. Walaupun dua kasus kenaikan harga diatas sama, konsumen akan sulit menginterprestasikan bahwa penurunan 10 gram tsb sama dengan kenaikan harga sekitar 10 %. Ini baru contoh sederhana, jika pengurangannya lebih rumit, konsumen akan lebih sulit memproses informasi tersebut. Apalagi untuk kasus barang-barang keseharian, kosumen jarang menggunakan kognisinya karena kegiatan ini merupakan rutinitas.

Jadi jelas bahwa reaksi negatif dari konsumen relatif lebih kecil apabila kenaikan harga diturunkan dengan cara pengurangan isi. Tapi ini tergantung juga pada besarnya pengurangan, latar belakang konsumen, dan faktor-faktor eksternal seperti media massa. Apabila pengurangannya sangat mencolok, seperti Meiji yang memotong 25 gram Almond Choco, konsumen akan dengan mudah mengenalinya. Apabila banyak “smart consumers”(baca ibu rumah tangga :)), pengurangan isi relatif mudah dikenali oleh mereka dan mudah mendapat reaksi negatif. Terakhir, biasanya pengurangan isi dilakukan dengan cara diam-diam supaya tidak ketahuan konsumen. Tapi apabila baunya tercium media massa, maka dengan cepat informasinya menyebar ke mana-mana. Terutama media massa Jepang yang penciumannya luar biasa, hampir setiap pengurangan isi muncul di berita.





Banyak yang cari “Harga TV”

19 09 2007

tv.jpgBeberapa hari terakhir, banyak yang mengakses ke KMD lewat mesin pencari dengan kata kunci “Harga TV”. Kebeteluan saya pernah menulis artikel tentang harga TV layar datar di KMD beberapa waktu lalu. Akibatnya artikel itu sekarang menjadi top post.

Yang membuat saya tertarik adalah, siapakah orang-orang mencari informasi harga TV lewat mesin pencari. Apakah konsumen yang sedang mempertimbangkan untuk membeli TV, ataukah peneliti yang sedang menyelidiki harga TV, atau retailer TV yang membutuhkan informasi harga produk-produk TV di pasar. Terutama untuk kasus konsumen yang ingin membeli TV, hal ini menunjukan adanya kebutuhan akan informasi harga TV. Khususnya untuk produk TV yang merupakan barang tetap dan harganya relatif mahal, kebutuhan ini bisa dibilang cukup tinggi. Konsumen sebisa mungkin mengorbankan waktunya untuk mencari informasi ini, membandingkan, dan menilai TV yang mana yang mereka anggap menguntungkan.

Menurut perkiraan saya, kebutuhan akan informasi ini tidak terbatas pada harga TV. Ini berlaku juga untuk barang-barang lain, terutama barang-barang tetap seperti mobil, kulkas, mesin cuci dll. Pada artikel lalu,  saya pernah menyinggung masalah ini. Adanya kebutuhan ini bisa dianggap sebagai peluang bisnis baru. Misalnya kita bisa membuat situs baru yang bernama “harga.com” yang memuat informasi tentang harga-harga produk seperti “kakaku.com”-nya Jepang. Ayo siapa yang berminat?

Sebagai informasi, harga TV di Jepang bisa dilihat di sini (harga dalam Yen, 1 Yen = 80 rupiah).





Harga motor Honda

18 09 2007

Beberapa hari ini ada tulisan di beberapa blog yang menarik perhatian saya. Tulisan ini tentang dikeluarkannya model motor baru Honda New Supra X 125 dengan harga yang lebih murah dari model lamanya. Konon ini untuk merebut pangsa pasar Yamaha yang tahun ini melebihi Honda. Dengan potongan harga ini,  diperkirakan permintaan motor Honda akan meningkat. Tetapi untuk jangka panjang, strategi ini dianggap akan merugikan Honda sendiri karena merusak kepercayaan konsumen dan menurunkan nilai brand Supra X 125. Untuk lebih jelasnya saya coba buat kronologi seperti berikut:

1. Honda mengeluarkan model baru (New Supra X 125) dengan harga yang lebih murah.

2. Penjualan model baru ini meningkat karena harganya yang menarik (?).

3. Sebagian konsumen yang sudah membeli Supra X 125 merasa dirugikan karena harga purna jual motor tersebut diperkirakan akan menurun (?).

4. Nilai brand Honda menurun di masa depan (?).

5. Permintaan akan motor Honda menurun di masa depan (?).

Kronologi nomor 1 adalah kenyataan yang sebenarnya. Akibat dikeluarkan model baru yang lebih murah ini, permintaan terhadap motor tsb meningkat. Mungkin ini logis, tapi perlu diperhatikan juga berapa peningkatan permintaan tsb. Apa memang peningkatannya drastis atau biasa-biasa saja. Juga perlu diselidiki siapa pembeli motor baru tsb, apakah mereka pembeli baru atau konsumen yang pernah membeli Honda atau sebaliknya kompetitor Honda. Ini penting untuk mengetahui pengaruh potongan harga ini, membuat orang beralih ke Honda atau menciptakan pasar baru.

Kronologi nomor 3 saya anggap logis dan wajar terjadi. Tapi ini masih tanda tanya. Artinya belum jelas berapa banyak orang merasa dirugikan. Kalau memang jumlahnya signifikan, Honda tidak bisa menggagap sepele masalah ini. Terlebih kalau yang merasa dirugikan adalah core customer Honda. Juga perlu diselidiki berapa kira-kira penurunan harga purna jual Honda model lama akibat dikeluarkannya model baru ini.

Kronologi nomor 4 juga mungkin perlu diperhatikan. Walaupun pengaruh potongan harga terhadap Honda sebagai brand belum bisa diketahui saat ini, bisa diperkirakan strategi ini melukai brand Honda dalam jangka panjang. Alasannya adalah model baru tsb adalah upgrade Supra X 125, otomatis memakai brand Supra yang sudah establish sebagai brand. Ceritanya akan lain apabila model baru tsb diberi nama yang lain selain Supra dan ditargetkan pada konsumen yang sensitif terhadap harga.

Kronologi nomor 5 saya kira hal yang paling penting diperhatikan. Kalau nomor 3 dan 4 adalah reaksi konsumen pada level sikap dan persepsi, nomor 5 adalah reaksi konsumen pada level perilaku. Artinya, dalam jangka panjang apakah konsumen, baik yang baru maupun yang sudah pernah membeli Honda, akan memutuskan untuk membeli Honda atau tidak. Seperti paragraf diatas, akibat dikeluarkannya model baru yang lebih murah ini, persepsi dan sikap konsumen terhadap Honda menjadi negatif. Apakah persepsi dan sikap ini akan diwujudkan dalam level perilaku dengan cara tidak membeli Honda.

Lalu apa yang harus dilakukan AHM supaya strategi ini tidak mengakibatkan hal yang negatif baik terhadap nilai brand Honda dan penjualannya. Saya kira AHM perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Berapa peningkatan penjualan setelah dikeluarkannya strategi ini, bagaimana perubahan persepsi dan sikap konsumen terhadap produk Honda, bagaimana prediksi penjualan Honda dalam jangka panjang. Satu lagi, AHM perlu juga memprediksi reaksi kompetitor (Yamaha) terhadap strategi mereka.

Tapi dari sudut pandang lain, strategi AHM ini bisa dianggap sebagai genderang perang tehadap kompetitornya untuk masuk ke “perang harga”. Apabila Yamaha melakukan counter-attack dengan memotong harga salah satu brandnya, bukan tidak mungkin harga-harga brand lain akan terimbas dan melakukan potongan harga. Kalau ini terjadi, yang diuntungkan adalah konsumen. Terutama konsumen yang berdompet tipis, motor bisa dibeli dengan harga yang terjangkau mereka.

Pelajaran dari kasus ini: “Perlu bertahun-tahun untuk membangun sebuah brand, tapi dengan sekejap kita bisa menghacurkannya”. 

Artikel yang berhubungan : honda ketahuan bohongnya, panik astra honda motor khianati konsumen





Seberapa jauh Anda tahu harga

16 09 2007

Setiap hari kita membeli dan menkonsumsi bermacam-macam barang. Tapi pernahkah kita berpikir tentang harga yang “tepat” untuk barang-barang itu. Bila saya tanya berapa harga CD isi sepuluh keping, saya yakin Anda akan berpikir cukup lama untuk menjawabnya. Sebenarnya pengetahuan konsumen tentang harga barang-barang yang mereka beli sangatlah minim. Di Amerika ada penelitian tentang pengetahuan konsumen tentang harga. Dalam penelitian itu, konsumen ditanya harga barang yang baru mereka masukan ke dalam shopping cart di supermarket. Hasil penelitian itu cukup mengejutkan. Lebih dari separuh responden tidak bisa menjawab dengan tepat barang-barang yang baru mereka beli.

Ada beberapa konsekuensi dari minimnya pengetahuan konsumen akan harga. Salah satunya adalah pengaruh label diskon atau potongan harga. Konsumen akan lebih sensitif terhadap label diskon apabila pengetahuan mereka tentang harga relatif sedikit. Kadang-kadang label diskon ini tidak selalu benar. Artinya penjual sering menaikan harga jual dan kemudian mencatumkan label diskon untuk menarik pembeli. Bagi konsumen yang tahu harga, mungkin strategi seperti ini tidak akan effektif, tapi bagi konsumen yang kurang tahu harga, pencantuman label diskon seperti ini akan terlihat menarik walaupun sebenarnya harga yang tercantum tersebut tidak benar-benar murah. Pada tahun 1990 di Amerika, seorang wartawan salah satu surat kabar di San Fransisco pernah meneliti harga sofa di beberapa toko. Di suatu toko sebuah sofa didiskon menjadi $2.170 dari harga “aslinya” $2.320. Di toko lain sofa yang sama dijual $2.600 dengan dicantumkan “35% off”. Dalam penelitian lain, penjualan juice di supermarket meningkat bila 20 sampai 30 persen dari juice yang dijual dicantumkan label diskon.

Pengaruh lain dari minimnya pengetahuan konsumen akan harga adalah pengaruh harga yang diakhiri angka 9. Bagi yang tinggal di Jepang, mungkin sering melihat harga minyak goreng 199 yen atau harga tissue 299 yen. Walaupun belum jelas alasannya, konsumen sering merasa harga yang diakhiri angka 9 murah. Dalam suatu penelitian tentang katalog e-commerce di Amerika, pejualan sebuah pakaian wanita meningkat 25 persen setelah dirubah harganya dari $ 34 menjadi $ 39. Sebaliknya penjualan menurun ketika harga dirubah menjadi $ 44.

Lalu mengapa pengetahuan konsumen tentang harga sering terbatas. Alasan pertama adalah sedikitnya sumber informasi harga yang memungkinkan konsumen untuk membandingkan harga-harga dengan biaya yang murah. Kadang-kadang konsumen sendiri tidak tahu dimana mereka bisa mendapatkan informasi tentang harga. Alasan kedua adalah keterbatasan konsumen dalam memproses informasi yang mereka dapat. Walaupun mereka sudah tahu harga-harga barang, kadang-kadang mereka sulit membuat keputusan barang mana yang paling murah dikarenakan sistem harga yang sangat rumit atau kualitas barang sangat bervariasi.

Akhir-akhir ini dengan semakin menyebarnya internet, informasi harga menjadi relatif mudah untuk didapat. Misalnya di Jepang ada situs kakaku.com yang menyediakan informasi bermacam-macam harga yang dijual di berbagai tempat perbelanjaan. Di situs ini kita bisa melihat harga tertinggi dan harga terendah dari suatu barang dan melihat tendensi perubahan harga barang tersebut di masa depan. Munculnya situs-situs seperti ini menandakan bahwa konsumen membutuhkan informasi harga-harga barang, dan kebutuhan akan informasi ini bisa dilihat sebagai pasar baru. Apabila penggunaan internet di Indonesia semakin meningkat, saya yakin pembuatan situs yang menyediakan informasi harga akan menjadi bisnis baru yang menggiurkan.





Jatuhnya harga TV layar tipis

2 10 2006

02_011.jpgMenjelang “perang akhir tahun”, harga TV layar tipis menurun dengan drastis. Dibanding harga tahun lalu, harga TV layar tipis tahun ini rata-rata turun sebesar 30 persen. Keadaan ini menyebabkan permintaan TV layar tipis meningkat. Di lain pihak keadaan ini kurang menguntungkan bagi produsen karena keuntungan per penjualan menjadi berkurang. Bagi konsumen sendiri, penurunan harga ini merupakan hal yang menguntungkan. Bahkan banyak diantara konsumen yang menganggap bahwa TV layar lebar bukan lagi barang mewah.

Dua tahun lalu, Sharp menjual produk mereka utuk ukuran 32 inci dengan harga sekitar 500 ribu yen (sekitar Rp 40 juta). Penjualan ukuran ini meningkat dengan pesat sehingga mengundang beberapa perusahaan lain untuk membuat produk dengan ukuran yang sama. Akibatnya harga turun menjadi 10 ribu yen per inci pada akhir tahun tsb. Pada akhir tahun ini harga di perkirakan turun menjadi 4 ribu yen per inci.

Bagi konsumen, turunnya harga TV layar tipis ini membawa angin segar. Selain banyak konsumen yang membeli baru, sekarang bermunculan konsumen yang membeli TV layar tipis untuk pembelian kedua. Diantara mereka membeli untuk dipasang di kamar tidur selain yang sudah dipasang di ruang tengah. Dilihat dari segi umur konsumen, generasi 20 - 30 puluh tahunan pun sudah banyak yang membeli TV layar tipis disamping pembeli utama yang berumur 60 tahun ke atas. Menurut perusahaan survey BCN, akhir tahun ini permintaan TV layar tipis diperkirakan meningkat 30 persen menjadi 2,2 juta unit.

Menurunnya harga TV layar tipis juga disebabkan oleh banyaknya pendatang baru ke pasar ini. Misalnya Funai Electric Co., Ltd yang bekerja sama dengan Yamada Denki. Biasanya pendatang baru ini menjual produk mereka dengan harga yang murah untuk merebut pangsa pasar. Perusahaan yang sudah eksis lebih dulu bereaksi dengan menurunkan harga produk-produk mereka untuk mempertahankan pangsa pasar masing-masing. Pada akhirnya persaingan harga pun tidak dapat dihindarkan.

Para produsen sendiri mengharapkan persaingan harga ini tidak berlanjut terus menerus. Terutama bagi produsen yang bermaksud mengeluarkan model baru.  Toshiba dan Canon yang mengembangkan sistem baru yang disebut SED harus menunda penjualan produk mereka sampai tahun depan untuk menunggu harga naik kembali.

Di Jepang, produk TV layar tipis sudah memasuki masa pertumbuhan tahap akhir dengan rasio kepemilikan sekitar 20 persen. Penurunan harga yang begitu drastis dirasakan terlalu cepat. Bisakah produsen mengembangkan teknologi atau strategi marketing baru untuk lepas dari persaingan harga ini?