Pembelian terencana dan tak terencana

24 11 2007

displayDilihat dari segi perencanaan, pembelian konsumen bisa dikategorikan ke dalam pembelian terencana (planned purchasing) dan pembelian tak terencana (unplanned purchasing). Pembelian terencana adalah perilaku pembelian dimana keputusan tentang item yang akan dibeli telah diambil sebelum konsumen masuk ke dalam toko. Sedangkan pembelian tak terencana adalah perilaku pembelian dimana konsumen tidak mempertimbangkan untuk membeli, atau mempertimbangkan untuk membeli tapi belum memutuskan produk apa yang akan dibeli. Perilaku manakah yang sering Anda lakukan, putuskan dulu produk yang ingin dibeli baru pergi ke supermarket, atau pergi dulu ke supermarket dan lihat-lihat dulu baru memutuskan produk yang ingin dibeli.

Terencana tidaknya pembelian oleh konsumen telah menjadi perhatian peneliti dan praktisi sejak dua puluhan tahu yang lalu. Kebanyakan orang tertarik untuk meneliti karakteristik dan proporsi konsumen yang melakukan pembeliannya secara terencana dan tak terencana. Point-of Purchase Advertising Institute (POPAI) melaporkan bahwa sekitar 75% persen pembelian di supermarket dilakukan secara tak terencana. Hal yang sama pun dapat dilihat di pasar Jepang seperti yang dilaporkan oleh The Distribution Economics Institute of Japan (DEI) bahwa sekitar 70% konsumen Jepang sering melakukan pembelian yang tak terencana.

Secara teori kedua jenis pembelian ini berbeda dalam proses pencarian dan evaluasi informasi yang berguna untuk memecahkan masalah konsumen. Kegiatan pembelian bisa dianggap sebagai kegiatan kosumen dalam memecahkan masalahnya. Misalnya konsumen membeli produk minuman ringan untuk memecahkan masalah kehausan. Untuk memecahkan masalahnya konsumen akan mencari informasi yang berguna supaya tidak keliru memilih produk yang digunakan untuk memecahkan masalahnya itu. Dalam kasus pembelian terencana, konsumen hanya menggunakan informasi yang ada dalam memorinya (informasi internal) atau informasi yang ada diluar toko, seperti iklan di koran atau TV. Sebaliknya dalam kasus pembelian tak terencana, konsumen akan masuk dulu ke dalam toko dan mencari dan mengevaluasi informasi yang ada di dalamnya seperti informasi potongan harga dan produk baru. Kadang kosumen akan mencoba dan membandingkan produk-produk yang menjadi pusat perhatiannya. Perbedaan pemrosesan informasi ini mempunyai arti penting bagi marketer dalam menentukan strategi promosi. Apabila sebagian besar konsumen melakukan pembelian secara terencana, manager marketing akan lebih baik melakukan promosi di luar toko seperti memuat iklan di koran atau mengirim liflet ke rumah pelanggan. Jika sebaliknya, manager sebaiknya memusatkan kegiatan promosinya di dalam toko (in-store promotion), seperti display dan diskon.

Baik pembelian terencana maupun tak terencana mempunyai beberapa jenis. Kita lihat dulu pembelian yang terencana. Pertama adalah pembelian terencana dalam arti sempit, pembelian ketika kita sudah menentukan jenis brand yang akan dibeli. Misalnya sebelum pergi ke supermarket kita sudah putuskan untuk membeli Indomie. Yang kedua adalah pembelian terencana dalam arti luas, yaitu ketika kita sudah memutuskan untuk membeli produk tertentu tapi belum tahu memilih brand yang mana. Misalnya kita sudah putuskan untuk membeli mie instant tapi belum tahu mau beli Indomie, Supermie, atau Sarimie. Yang ketiga adalah perubahan brand, yaitu ketika kita memutuskan untuk membeli brand tertentu tapi berubah pikiran untuk memilih brand lain ketika sudah masuk di dalam toko.

Untuk pembelian tak terencana, jenis yang pertama adalah pembelian karena teringatkan. Misalnya ketika pergi ke supermarket kita melihat produk mie instant dan teringat kalau persediaan di rumah sudah habis dan kemudian memutuskan untuk membelinya walaupun ketika berangkat dari rumah tidak terlintas untuk membeli mie instant. Yang ke dua adalah pembelian produk yang berhubungan, misalnya ketika sudah membeli mie instant kita teringat untuk membeli saus cabe. Yang ketiga adalah pembelian dengan maksud tertentu, misalnya seorang ibu rumah tangga yang pergi belanja untuk menu makan malam baru menentukan menunya ketika sedang berada di dalam supermarket. Yang terakhir adalah yang disebut denga impulse purchasing, yaitu pembelian yang dilakukan konsumen karena tiba-tiba tertarik dengan suatu produk. Misalnya seorang penggemar fotografi akan tertarik untuk membeli lensa terbaru yang dipajang di dalam toko walaupun dia sendiri tidak berniat untuk membeli lensa.

Di atas disebutkan bahwa pemahaman tentang pembelian terencana dan tak terencana penting dalam mengembangkan stretegi promosi. Promosi yang dilakukan di dalam toko akan sangat mempengaruhi pembelian konsumen yang melakukan pembelian secara tak terencana. Beberapa waktu lalu tim dari DEI mengadakan penelitian tentang stategi promosi di dalam toko yang bisa meningkatkan penjualan. Penelitian mereka meliputi penempatan dan penampilan produk di dalam toko, penentuan lay-out toko, pemilihan produk untuk ditempatkan di ujung rak (end),  kombinasi produk yang saling berhubungan dll. Tapi sepertinya hasil dari penelitian belum bisa menghasilkan kesimpulan yang memuaskan. Masih banyak yang harus diselidiki lagi tentang ini. Mungkin metode tracking seperti yang dilakukan Paco Underhill bisa menjadi alternatif.

Tambahan: Biasanya laki-laki (termasuk saya) cenderung melakukan pembelian dengan terencana. Tentukan barang yang akan dibeli, pergi ke supermarket dan membelinya, setelah itu langsung pulang. Mungkin kebanyakan laki-laki tidak habis pikir kenapa kaum wanita betah berjam-jam berada di tempat belanja. Itu mungkin karena kebanyakan dari mereka melakukan pembelian tak terencana.


Tindakan

Information

4 tanggapan ke “Pembelian terencana dan tak terencana”

25 11 2007
saniroy (05:45:16) :

Kalo pengamatan saya, wanita itu lamanya bukan untuk membeli tanpa rencana, tapi merekam harga untuk perbandingan/referensi di kemudian hari. Beda dengan kita masuk toko meski harga mahal pun langsung diembat :-P. Memang idelnya masuk tokonya bareng2 Pak, tapi ini pun paling hanya sempat dilakukan di hari libur dan untuk barang2 yang strategis atau mahal.

Maaf dan nuhun, MSR

Dony:

He..he..ini mungkin bisa digolongkan menjadi pembelian tak terencana jenis baru. Walaupun sudah ada yang ingin dibeli, keputusannya diambil di dalam toko setelah lihat-lihat harga. Kalau ada yang murah beli, kalau enggak ada tunggu sampai harganya turun. Yang bikin repot kalau sudah diajak keliling beberapa tempat belanja hanya untuk membandingkan harga :)

25 11 2007
hermin (06:54:05) :

Beberapa dekade lalu memang wanita suka berlama-lama di Supermarket dan akhirnya melakukan pembelian takterencana. Kini, nampaknya fenomena itu berangsur-angsur terbalik. Saya dan beberapa teman bahkan jika pergi ke suatu tempat perbelanjaan (asal bukan urusan fashion), langsung menuju tujuan pembelian. Dan beberapa suami teman bahkan dapat berlama-lama di Supermarket (sampai pasangannya jenuh kadang) dengan tujuan mencari barang-barang yang dirasa lebih murah… dan tidak menutup kemungkinan akhirnya terjadi pembelian tak terencana.

Btw, blog yang menarik juga nih… jadi bisa saling berbagi ya…

Dony:

He..he..fenomena yang menarik mbak. Ada kemungkinan juga laki-laki berlama-lama di supermarket karena mereka enggak bisa belanja dengan effisien kayak wanita yang sudah terbiasa. Untuk mencari letak produk aja lamanya minta ampun. Saya sendiri kalau disuruh belanja ke supermarket harus ngubek-ngubek dulu hanya untuk mencari telur :p.

2 01 2008
Piet (20:58:58) :

Bukankah semua tanpa rencana…hehehehhe kaya lagunya kunci

21 02 2008
peter wee (16:36:05) :

Membaca setiap artikel yang ditulis , membuat saya teringat masa-masa kuliah, sangat menyenangkan menikmati tulisan yang penuh sejuta makna.
Dari tiap artikel yang terjadi saya bisa menyimpulkan salah satu bagian yang di sukai bung donny adalah advertising ( sorry kalau salah ).

Sebelum membahas planned and unplanned purchasing kita mungkin bisa melihat dulu customer goods classification ; customer biasanya membeli 1. convenience goods cth sabun, koran yang dimana barang tersebut hanya sekali pakai . Pada convenience goods dibagi lagi kedalam a-staples ( pembelian karena regular cth kecap, sambal dsb) , b-impulse goods dibeli tanpa perencanaan atau usaha untuk mencari sebuah barang ( cth permen majalah) dan c-emergency goods di beli karena kebutuhan mendesak ( cth beli payung di saat hujan mendadak )
2.Shopping goods ;barang yang oleh konsumen sebelum di beli dipertimbangkan sebelum di beli meliputi ; suitability ,quality, price dan style.
Ini pun terbagi dua a-homogenous shopping goods ( barang pada posisi sama tapi berbeda price , price sensitive) dan b-heterogenous shopping goods ( feature dan service, harga bukan menjadi masalah)
3.Specialty goods ; barang yang memiliki karakteristik unik cth mobil mercedes, Kamera etc.
4.Unsought goods ; orang membeli barang tanpa mengetahui secara lengkap ( cth smoke detector)
Jika mengetahui hal diatas kita bisa menentukan product-product apa yang masuk pada planned dan unplanned purchasing. Mekanisme pemajangan produk di supermarket / shop mereka mengikuti kaidah diatas , lihatlah di meja kasir penuh barang impulse goods . di rak-rak dalam ruangan perusahaan berlomba-lomba memajang produk sejajar mata kita sehingga kita langsung melihat barang yang ada didepan mata kita, pernahkan kita melihat barang yang terletak paling bawah atau paling atas di rak toko ? .
Lihatlah mekanisme pengaturan barang ala Toshiba , mereka mempunyai manual book penataan barang electronicnya.
Oups hampir lupa , warna ( kembali keartikel warna) akan mempengaruhi orang untuk membeli cth gadis-gadis menyukai warna pink akan langsung membeli barang tersebut tanpa pikir panjang lagi ( impulse ) disamping itu tulisan dan gambar yang bertuliskan discount gede gede.
Pembeli tanpa brand image yang kuat terhadap product akan segera dibelokan oleh toko ke produk yang seringnya dia mendapat bonus tinggi.
Ada satu item lagi saya lupa istilahnya apa ; cthnya peralatan duka, orang menghindari untuk mendapat duka tapi jika terjadi dia akan membeli tanpa ada proses penawaran.
Terima kasih mas donny atas artikelnya .

Dony:

Bung Peter, terima kasih dengan komentarnya yang panjang lebar. Saya sendiri mendapat tambahan pengetahuan dari komentarnya. Jangan kapok-kapok ya.

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>