Brand Equity atau Customer Equity

22 11 2007

Tidak seperti ilmu ekonomi,  dalam bidang marketing kita tidak mengenal dengan namanya madzhab. Tapi dalam dua dekade terakhir, ada dua pendekatan yang menjadi acuan dalam pegembangan kegiatan marketing. Yang pertama adalah pendekatan brand equity, konsep yang menganggap brand sebagai asset perusahaan yang dapat berkontribusi terhadap penjualan atau profit. Yang satunya lagi adalah pendekatan customer equity, konsep yang menitikberatkan managemen hubungan dengan customer sebagai asset perusahaan. Bagi sebagian orang, kedua pendekatan ini kelihatan saling bersaing untuk mendapatkan pengakuan publik. Anggapan seperti ini tidaklah sepenuhnya salah, tapi kalau dilihat lebih mendalam lagi kedua konsep ini bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Dalam framework brand equity, hubungan dengan customer bukanlah hal yang tidak penting. Hubungan yang baik dengan customer bisa membantu meningkatkan brand loyalty terhadap brand yang bersangkutan. Demikian juga dalam framework customer equity, brand mempunyai peranan penting dalam menjalin hubungan dengan customer. Kuaitas brand yang tinggi bisa memudahkan manager dalam akuisisi customer baru dan kegiatan retensi. Yang membedakan kedua pola pikir ini terletak pada fokus atau titik berat dalam pembuatan strategi dan program marketing,  brand atau customer. Perbedaan titik berat ini bisa mempengaruhi pilihan jenis kegiatan dan alokasi anggaran marketing.

brand

Peneiliti yang mewakili aliran brand equity adalah David Aaker (ex. Universitas California) dan Kevin Keller (Dartmouth College). Menurut mereka ada empat komponen penting yang membentuk brand equity. Yang pertama adalah brand loyalty, komponen yang penting karena performance perusahaan sangat bergantung pada seberapa banyak konsumen yang loyal. Yang kedua adalah brand awareness, sejauh mana konsumen tahu tentang keberadaan brand tersebut. Brand awareness yang tinggi dapat meningkatkan familiarity yang positif dan kemungkinan masuk dalam list brand untuk dibeli. Yang ketiga adalah perceived quality, yaitu kualitas brand atau produk tersebut di mata konsumen. Apabila konsumen beranggapan suatu brand kualitas, dia akan lebih mudah membayar lebih untuk brand tersebut. Yang terakhir adalah brand associations, konsep-konsep, orang, atau image yang dihubungkan dengan brand. Brand assosiations berguna dalam pembentukan sikap positif terhadap brand dan menjadi motivasi pembelian.

Sebagai wakil dari pendekatan customer equity adalah Robert Blattberg (Universitas North Western) dan John Deighton (Harvard Business School). Istilah customer equity sendiri mereka gunakan pertama kali dalam artikelnya yang dimuat di Harvard Business Review (1996). Menurut pandangan mereka, customer adalah asset perusahaan. Seperti asset-asset lainnya, customer harus dimanage dengan benar sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Yang menjadi kunci dalam pendekatan ini adalah bagaimana perusahaan memanage customer life cycle, dari mulai tahap calon customer sampai pada tahap dia berhenti sebagai customer. Dalam proses ini ada tiga asset penting yang harus diperhatikan. Pertama adalah aquisition equity, yaitu asset yang diperoleh dari kegiatan akuisisi customer. Kedua adalah retention equity, asset yang diperoleh dari kegiatan rentensi. Ketiga adalah add-on selling equity, asset yang diperoleh jika perusahaan bisa memotivasi customer untuk membeli produk-produk yang ada dalam product line mereka.

Diatas disebutkan bahwa kedua pendekatan ini bisa menyebabkan perbedaan dalam pembuatan strategi dan program marketing. Table di bawah ini merangkum perbedaan perspektif kedua pendekatan tersebut terhadap kegiatan marketing.

Kegiatan Marketing

Brand Equity

Customer Equity

Kualitas produk dan service Menciptakan rasa suka terhadap produk Menciptakan tingkat retensi yang tinggi
Iklan Menciptakan brand image dan positioning Menciptakan familiarity dengan customer
Promosi Menurunkan nilai brand equity Merangsang untuk membeli kembali
Pengembangan produk baru Menggunakan brand name untuk produk baru Membuat produk yang dapat memperkuat hubungan dengan customer
Segmentasi Didasarkan pada kararteristik customer dan benefit dari produk Didasarkan pada pola perilaku pembelian customer
Distribusi Distribusi multi stage Direct selling
Customer service Memperkuat brand image Meningkatkan familiarity dengan customer

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah pendekatan manakah yang sebaiknya diambil oleh seorang marketer dalam menyusun strateginya. Sayang sekali tidak ada jawaban yang simpel untuk pertanyaan ini. Tapi sedikitnya ada beberapa faktor yang bisa dijadikan acuan untuk memilih pendekatan mana yang akan dipakai. Pertama adalah karakeristik pasar. Untuk jenis pasar dimana brand sangat menentukan persaingan, seperti pasar mobil mewah, pendekatan brand equity adalah pilihan yang tepat. Sebaliknya untuk pasar dimana diferensiasi kurang berfungsi, pendekatan customer equity akan lebih baik. Faktor kedua adalah karakteristik konsumen. Apabila pengetahuan konsumen tentang kualitas sangat terbatas, seperti produk-produk high-tech, brand menjadi kunci dalam persaingan dan pendekatan brand equity akan lebih cocok untuk konsumen seperti ini. Faktor yang ketiga adalah product life cycle. Untuk jenis produk yang baru muncul, brand akan menjadi parameter dalam pengambilan keputusan pembelian. Artinya, untuk produk pada tahap ini pendekatan brand equity akan lebih baik. Sebaliknya untuk produk-produk yang sudah masuk mature stage dan decline stage, retensi core customer akan menentukan keunggulan persaingan, marketer sebaiknya memilih pendekatan customer equity.


Tindakan

Information

17 tanggapan ke “Brand Equity atau Customer Equity”

19 12 2007
ata (09:18:35) :

mohon sarannya, saya lg buat skripsi mengenai braga festival sebagai strategi marketing PR untuk meningkatkan brand image wisata kuliner, seni budaya dan belanja…
pembentuk brand image yg cocok untuk diteliti dalam penelitian saya ini apa?
trims

Dony:

Tolong hubungi saya lewat email dan jelaskan lebih detail lagi latar belakang dan tujuan penelitiannya.

25 01 2008
Santi (12:33:16) :

Saya mahasiswi tingkat akhir di Psikologi UI, saat ini saya sedang mencari topik ttg Brand Equity sebagai skripsi, kira2 Mas Dony bisa membantu saya ga? Soalnya saya perlu sumber2 literatur mengenai brand equity, tolong email saya kalau Mas Dony bersedia. Terimakasih.

dony:

ok nanti saya hubungi lewat email.

4 02 2008
itay (07:47:23) :

Saya Mahasiswi tingkat akhir Fikom Unpad konsentrasi pemasaran, saat ini saya sedang mencari bahan untuk penlitian saya tentang perceived Quality pada minuman isotonik. saya kesulitan dalam menentukan atribut apa saja yang digunakan untuk mengukur Perceived Quality pada konsumen. yang ingin saya tanyakan adalah
kira-kira atribut apa saja yang digunakan untuk mengukur perceived quality pada konsumen ?
mohon saran literatur rujukan yang bisa membantu penelitian saya ini apa saja?
terimakasih mas dony…

Dony:

Mungkin Anda bisa baca buku “Managing Brand Equity”-nya David Aaker. Sedikit pendapat dari saya, tidak ada jawaban yang unik untuk perceived quality. Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung pada jenis produknya. Untuk mengetahuinya kita harus tanya langsung pada konsumen melalui survey. Mungkin Anda bisa menggunakan metode Conjoint Analysis.

17 02 2008
Charlotte (16:19:50) :

Hii mas don,
saya mahasiswi tingkat akhir Pariwisata
Saya mau nyusun skripsi. pgen ngambil topik ttg CSR
pengaruh CSR dengan penigkatan Brand Image di Hotel/ Objek wisata.
masih mau ngajuin judul ni. Kira2 ada saran gak?
Trs pnya literatur/referensi2. saya jg ms bingung dgn alat ukur u analisnya,,
mohon bantuannya yah,
Nuhun pisan

18 02 2008
donydw (11:23:42) :

Dik Charlotte (Ini nama asli ya :) ), kalau masalah judul saya kira yang simpel aja enggak jadi masalah. Tapi kalau bisa judulnya yang bisa menarik orang untuk membaca dan relevan dengan isi tema. Mungkin yang jauh lebih penting adalah perumusan masalah. Misalnya penelitian tentang pengaruh kegiatan CSR terhadap brand image hotel. Tapi tema seperti ini sepertinya terlalu simple dan kurang menarik karena jawabannya sudah bisa ditebak secara intuitif. Maksud saya, tanpa capek-capek neliti pun orang-orang sudah bisa menebak kalau kegiatan CSR punya pengaruh positif terhadap brand image. Mungkin harus ada moderator atau variable-variable lain yang perlu juga dipikirkan. Misalnya awareness, kepuasan, switching cost dll. Saya sendiri kurang punya literature tentang kegiatan CSR, tapi kalau memang butuh bisa saya carikan. Silahkan hubungi saya lewat email dengan mencatumkan nama lengkap dan afiliasi.

25 02 2008
lia (16:23:48) :

mas Dony yg bae, saya mahasiswi jurusan pariwisata tingkat akhir,
saya interested mo ngambil brand equity sebgai topik skripsi saya
kemungkinan besar lokusnya di boutique hospital, atau medical spa
contohnya melinda hospital
yg saya mau tanyain qra” topik apa yg paling cocok dengan brand equitynya ini
trus referensinya yg tepat buku yg mana?
tolong ya mas, bole hubungi saya di alamat e-mail
makasi banyak yah

Dony:

Dik Lia, maaf telat ngejawabnya. Ok, nanti saya hubungi langsung lewat email.

12 03 2008
Cahya Kusuma (02:30:30) :

Mas Dony, saya mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi studi Komunikasi Pemasaran dan Periklanan. Tadinya saya ingin mengangkat brand equity sebagai topik skripsi saya, dengan Starbuck Coffee Yogyakarta sebagai objek penelitiannya. Tapi setelah baca blog Mas jadi bingung ni. Kacenderungannya untuk Starbuck lebih cocok make brand equity ato customer equity ya?
Mohon bantuannya ya Mas.. Maturnuwun.

Dony:

Mungkin harus dilihat dulu karakteristik produk starbuck. Saya kira jawabannya tidaklah mudah. Persepsi dan ekspekatasi konsumen terhadap produk ini juga perlu diperhatikan. Kalau dilihat sepintas, mungkin pendekatan brand equity lebih tepat. Produk minuman ringan biasanya tingkat diferensiasinya rendah. Kopi yang dujual di starbuck kualitasnya mungkin tidak terlalu jauh dengan yang dijual di cafe-cafe lain. Orang mau membayar lebih untuk minum kopi di starbuck karena brand equitynya. Ini pendapat sepintas saja. Kalau mau berdiskusi lebih jauh lagi silahkan hubungi saya lewat email.

27 03 2008
lies (14:17:41) :

senangnya… bs menemukan blog ini :)
mas dony, sy mahasiswa S2 di trisakti, yg lg ngumpulin bnyak literatur/jurnal2 berkaitan dgn brand equity…krna tesis sy ttg brand equity. Pembimbing sy, minta sy mcari literatur/teori2 baru ttg brand equity/CBBE. Mohon bantuannya ya mas, jika ada jurnal2 atau literatur2 yg berhub dgn brand equity…terima kasih sebelumnya..

27 03 2008
donydw (17:23:02) :

Dik Lies, mudah-mudahan nanti bisa saya carikan jurnalnya. Kalau ada judul paper yang ingin dibaca, mungkin lebih mudah buat saya untuk mencarikannya.

1 04 2008
intan (15:44:31) :

saya mahasiswi yang sedang skripsi, mohon bantuan tentang latar belakang pemikiran judul saya? kerangka berfikir tentang hubungan 2 variabel yang saya teliti..jurnal saya tidak mengutarakannya dengan jelas…judul sya “pengaruh country of origin terhadap consumer-based brand equity”, saya sudah berusaha menjelaskan kpd dosen tapi kurang logis.sebenernya pengertian CBBE yang benar seperti apa?
terima kasih sebelumnya.
tolong kirim lewat email saya ( catty_diamond@yahoo.com)

1 04 2008
intan (15:45:01) :

saya mahasiswi yang sedang skripsi, mohon bantuan tentang latar belakang pemikiran judul saya? kerangka berfikir tentang hubungan 2 variabel yang saya teliti..jurnal saya tidak mengutarakannya dengan jelas…judul sya “pengaruh country of origin terhadap consumer-based brand equity”, saya sudah berusaha menjelaskan kpd dosen tapi kurang logis.sebenernya pengertian CBBE yang benar seperti apa?
terima kasih sebelumnya.

2 04 2008
donydw (21:41:50) :

Hallo Dik Intan,

Saya masih kurang bisa menangkap maksud pertanyaannya. Mungkin bisa dijelaskan lebih detail lagi. Mengenai konsep CBBE, Anda bisa baca artikel dibawah ini:

Conceptualizing, Measuring, and Managing Customer-Based Brand Equity
Kevin Lane Keller
Journal of Marketing, Vol. 57, No. 1 (Jan., 1993), pp. 1-22

Intinya, CBBE adalah brand equity yang memperhitungkan pengaruh brand terhadap reaksi customer pada marketing mix. Dari penjelasan Dik Intan, Anda berusaha meneliti pengaruh country of origin terhadap CBBE. Misalnya apakah produk yang made in USA akan meningkatkan image brand dan akhirnya memungkinkan brand tsb dijual dengan dengan harga premium (maaf kalau saya salah tangkap). Kalau Anda rasa masalah ini penting dan menarik, dan cukup mereview penelitian-penelitian yang ada, saya kira logis-logis saja. Hanya yang perlu diingat, country of origin itu bukanlah variabel yang mudah dirubah. Jadi walaupun tahu effeknya positif atau negatif, perusahaan tidak bisa dengan mudah merubahnya.

Kalau ada yang ingin disampaikan lagi, silahkan hubungi saya lewat e-mail.

9 04 2008
intan (10:40:53) :

mas, alamat emailnya apa? apa yang ada di profil anda? saya sudah kirim email, apa masuk? terima kasih

9 04 2008
donydw (11:47:49) :

Dik Intan, alamat emailnya enggak salah. Saya sudah terima emailnya. Mohon sabar sebentar ya. Pekerjaan saya lagi numpuk :(

9 04 2008
myrio (14:34:17) :

alhamdulillah, ktemu juga niy blog ttg brand.
Mas Doni boleh minta tolong ga? saya rio mahasiswa tingkat akhir jurusan marketing dengan tugas akhir ttg brand awareness dan marketing komunikasi. perusahaan yang dijadikan objeknya yaitu dari salah satu produk alat rumah tangga kompor “Quantum”. Kalo berkenan, saya ingin berdiskusi melalui email pribadi mas Doni. terimakasih atas waktunya Mas..

Dony
Dik Rio, Silahkan saja kalau mau berdiskusi. Saya sendiri senang karena bisa tambah pengetahuan. Silahkan hubungi saya lewat email.

9 04 2008
minar (18:33:29) :

Pak dony saya mahasiswa Pemasaran di Politeknik Negeri Bandung
Saya sangat tertarik dengan blog dan artikel-aetikel di site anda. karena sangat berguna bagi saya dalam mempelajari tentang marketing. saya harap saya dapat belajar lebih banyak dari anda.

Dony:

Dik Minar, senang kalau blog saya bisa berguna buat anda. Saya akhir-akhir ini saya jarang mengupdatenya karena kesibukan di kampus.

17 04 2008
lala (17:22:59) :

Dear mas Dony,
senang skali bisa membaca blog mas dony, dan kebeneran juga saya lagi nyusun thesis ttg industri perbankan di Indonesia.
Ada survei yang menyebutkan bahwa kepuasan konsumen sudah tidak lagi cukup untuk meningkatkan sales serta profit sebuah perusahaan, yang harus dibangun adalah sampai ke tahap customer loyalty.
yang ingin saya tanyakan adalah, di dalam aspek brand equity kan ada brand loyalty, apakah cutomer loyalty bisa dianggap sama dengan brand loyalty?
apakah proses penciptaan loyalty itu sama dengan proses penciptaan brand loyalty?

terimakasih banyak ya mas…

Best regards

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>