Psikologi warna dan marketing
23 09 2007Salah satu elemen yang penting dari suatu produk adalah warna. Dalam mengevaluasi suatu objek, elemen yang paling pertama diperhatikan adalah warna. Hampir 60% penerimaan terhadap suatu produk ditentukan oleh perasaan yang dihasilkan setelah melihat warnanya. Selain perasaan, warna juga bisa mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang terhadap suatu produk. Warna suatu produk bisa membuat seseorang menerima atau menolak produk tsb, memberikan kenyamanan atau sebaliknya, bahkan bisa mempengaruhi nafsu makan seseorang.
Reaksi seseorang terhadap warna meliputi proses otomatis penglihatan warna, optic neuron, beberapa bagian otak, dan bermacam jenis kelenjar. Misalnya ketika seseorang melihat warna merah, ada kelenjar yang terangsang untuk mengirim signal kimiawi ke adrenal medullae yang mengandung adrenaline dan kemudian membuat tubuh menjadi sangat aktif. Emosi seseorang, seperti rasa marah dan rasa takut, akan meningkat apabila orang tersebut melihat warna merah. Itu sebabnya tanda-tanda bahaya sering diberi warna merah. Merah juga merangsang orang untuk excited, yang melatar belakangi warna lipstik lebih banyak berwarna merah. Ada kecenderungan bahwa seseorang akan terangsang nafsu makannya apabila melihat warna merah. Itu sebabnya warna merah banyak dijadikan warna dasar di banyak restoran.
Warna pink cerah mempunyai effek yang bertolak belakang dengan warna merah. Artinya warna pink bisa meredam emosi orang yang melihatnya. Ketika melihat warna pink, otak akan memproduksi norepinephrine, kelenjar yang menghasilkan epinephrine yang bisa menimbulkan rasa tenang. Oleh karena itu, warna pink cocok untuk tempat-tempat dimana banyak orang-orang yang marah ( mis. bagian pengaduan di dept. store, atau bagian tertentu di penjara).
Diantara warna-warna lain, warna kuning adalah warna yang paling cepat dikenali mata karena reaksi electrochemical yang membuat respon mata menjadi cepat. Warna kuning cocok untuk warna bagian tertentu yang membutuhkan perhatian, misalnya warna signal atau warna whats new dalam suatu homepage. Dealer mobil lebih baik memajang mobil warna kuning di showroom-nya untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Warna kuning dianggap juga sebagai warna yang cerah dan gembira, sehingga apabila warna dinding dapur diberi warna kuning bisa mengurangi rasa jenuh dan rasa tidak sabar.
Beberapa penelitian menemukan bahwa kesukaan seseorang terhadap warna banyak ditentukan oleh status sosio ekonomi (pendapatan atau pendidikan). Orang-orang yang berpendapatan rendah cenderung untuk menyukai warna-warna primer yang murni dan simple seperti warna biru langit atau hijau daun. Sebaliknya orang-orang yang berpendapatan tinggi cenderung lebih menyukai warna yang lebih kompleks seperti abu-abu yang kebiru-biruan. Bagi orang-orang yang berpendapatan rendah warna seperti ini terlihat kurang jelas dan kurang menarik. Bagi produsen yang mentargetkan produknya untuk konsumen yang berpendapat rendah, warna cerah dan simpel mungkin lebih dianjurkan.
Menurut para ahli, jenis kelamin juga bisa mempengaruhi warna favorit seseorang. Menurut mereka, mata melihat semua warna mempunyai warna latar kuning atau biru. Misalnya ketika melihat warna merah, mata mengenali warna itu berlatar kuning (seperti warna tomat) atau berlatar biru (seperti warna anggur). Laki-laki lebih suka warna merah yang berlatar kuning, sedangkan wanita lebih suka warna merah berlatar biru. Sering wanita membeli kosmetik warna merah yang berlatar biru, sedangkan pasangannya lebih suka yang berlatar kuning.
Sebuah penelitian di Amerika menyebutkan bahwa 80% orang Amerika memfavoritkan warna biru. Biru dianggap warna yang bisa memberi rasa tenang. Misalnya ketika ketika memperhatikan laut, langit atau objek alam lain yang diinterpretasikan berwarna biru. Dibeberapa rumah sakit , mereka mencat dinding bagian perawatan penyakit jantungdengan warna biru. Di lain pihak, warna biru muda dianggap bisa meningkatkan fantasi, sehingga cocok untuk warna dinding bagian kreatif pada agen iklan.







untuk bidang pangan (food) yang menjadi permasalahan dan patut dipertanyakan adalah apakah warna makanan atau minuman yang menarik itu sudah pasti aman? Apakah zat pewarna yang digunakan alami atau buatan (sintetis)? aman maksudnya di sini adalah tidak menyebabkan bahaya kesehatan (akut atau kronik).
bila yang digunakan adalah pewarna alami barangkali tidak bermasalah. namun jika berasal dari bahan sintetis apakah jenis pewarna itu termasuk jenis yang diizinkan untuk produk makanan atau minuman. pertanyaan berikutnya adalah apakah dosisnya tidak melebihi batas yang diperkenankan?
Komentar:
Kang Ardy, makasih atas tambahannya. Jadi tambah pengetahuan nih.
Kalau utk bidang pangan, sepertinya bisa bermain di kemasan atau package nya, ya Pak? jadi permainan warnanya di kemasan saja. Pilih warna yg juga compatible ama kemasannya (umumnya kemasan plastik), dan tidak luntur ke makanannya…
Saya salut sama produk2 makanan di Jepang. Sampai saat ini saya (kalo dari segi rasa), masih jauh lbh suka makanan di Indonesia. Tapi org Jepang membuat (mengemas) jualan makanan mereka sehingga sangat menarik, dan sangat pantas utk jadi oleh2 buat keluarga, kenalan, bahkan utk diri sendiri. Sampai2 saya sering merasa sayang utk membuang kotak kemasannya, saking bagusnya. Cthnya aja produk Tokyo banana. Lah…rasanya gak jauh beda ama ledre pisang kita kok. tapi kemasannya cantik sekali. makanya saya pede buat bw sbg oleh2. Heheh…Walaupun di Indo, sodara2 juga bilang gini: loh…ini doank makanan jepang?? Huehehehe…
–Rika–
ya dua2nya. dari kacamata orang pangan
tetap aspek keamanan menjadi prioritas. pemilihan warna (lebih kepada bahan pewarnanya) selektif mungkin tidak mencemari makanan yg dikemas.
pertanyaan yg sama juga yg selalu ada dalam benak saya….padahal kalo dikemas lebih “cantik” saya yakin produk kita tidak kalah dengan produk di Jepun ini. usaha2 tsb sudah dilakukan walau belum untuk semua produk. ini barangkali karena berkaitan dengan daya jangkau masyarakat kita. untuk dikemas dgn menarik tentunya akan ada ongkos produksi (bener gak kang Dony?) dan konsumen kita pada umumnya masih tidak terlalu mementingkan aspek ini. tapi saya yakin kita juga akan mengarah ke sana…dan effort ke sana skr2 ini juga sudah dilakukan.
Komentar:
Betul Kang Ardy, dengan meningkatkan kualitas kemasan biaya produksi bisa meningkat. Tapi apabila peningkatan ini bisa menarik banyak konsumen dan membuat konsumen menjadi loyal, biaya tadi bisa dianggap sebagai investasi. Untuk kondisi di Indonesia, saya enggak tahu apakah konsumen kurang peduli pada kemasan atau produsen yang kurang bisa menangkap selera konsumen. Kalau memang produsen yang kurang peka, kualitas kemasan bisa dijadikan area untuk bersaing dengan kompetitor.
Nice , Warna merupakan factor dominan dalam purchasing , secara segmentasi warna mendominasi prilaku orang asia, cth hijau muda merupakan warna paling disukai konsumen muslim , merah di sukai warga keturunan dimana setiap pernak pernik menjelang imlek dan usahanya selalu berazas merah.
dan satu factor lagi buat asia feng shui ini mendominasi pada beberapa perusahaan, dan Number lihatlah perusahaan perusahaan besar asia no call centernya :p .
thank u for sharing
Komentar:
Bung Peter, trims komentarnya. Saya juga percaya kalau faktor geografis dan demografis bisa mempengaruhi kesukaan seseorang terhadap warna.
bentar mas, saya baca ini dan ada hal negatif yang bisa saya tangkep, kalo di aplikasikan ke dalam market tertentu. pasar orang2 epilepsi…. gimana tuh mas?
ini mungkin bisa jadi rujukan :
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/12/time/132537/idnews/922334/idkanal/323
ato langsung aja ke dokter… XD
bukannya hal itu bahaya banget kan? mengingat orang2 pengidap epilepsi enggak boleh ngeliat animasi dan warna-warna ngejreng? bahaya donk kalo advertising nya lewat media elektronik?
bagaimana tanggapan dari pakar marketing kita, bapak dony? =)