Hari yang menentukan

29 01 2007

other051.gifSabtu kemarin di tempat kerja saya, Osaka University, ada tes masuk S2. Tes ini dibagi menjadi dua bagian, tes tulis dan wawancara. Dalam tes wawancara, setiap pendaftar diberi waktu 15 menit untuk menjawab pertanyaan dari penguji. Sekitar 80 orang pendaftar mengikuti ujian ini. Pendaftar datang dari berbagai daerah di Jepang. Bahkan tidak sedikit mahasiswa asing dari Cina. Karena kursi yang tersedia hanya untuk 30 orang, lebih dari setengah pendaftar dipastikan gagal masuk S2.

Saya jadi ingat sekitar 6 tahun yang lalu ketika mengambil ujian S2 di Universitas Tohoku. Di depan beberapa orang profesor, saya harus mempresentasikan rencana penelitian dalam waktu singkat. Walaupun bukan tipe orang yang suka grogi, saat itu saya benar-benar grogi. Sepertinya apa yang ada di kepala tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulut. 

Tapi hari Sabtu kemarin posisi saya bukan sebagai orang yang diuji, melainkan sebagai penguji. Keputusan saya sedikit banyak akan mempengaruhi kelulusan ke 80 pendaftar. Dengan kata lain, kata-kata “yes” atau “no” dari saya akan menentukan jalan hidup setiap orang yang mengikuti ujian. Tentu saja saya tidak bilang bahwa orang yang lulus ujian dijamin sukses dalam hidupnya. Dan saya juga tidak bermaksud lebih tahu daripada Tuhan tentang nasib hidup seseorang. Hanya saja saya merasakan betapa berat tanggung jawab saya, dan betapa berartinya setiap keputusan yang saya ambil bagi setiap orang yang diuji hari itu.

Tentu saja saya berusaha untuk tidak mencampuradukan antara pekerjaan dengan perasaan. Saya baca dengan teliti proposal penelitian setiap pendaftar supaya bisa memberikan penilaian yang obyektif. Tapi bisakah kita menilai seseorang secara obyektif dalam waktu 15 menit. Saya kira sulit, kecuali saya ahli dibidang psikologi.

Ya…inilah kenyataan. Dalam semua aspek kehidupan, kita diikat oleh berbagai macam keterbatasan. Dalam kasus ujian S2 ini, saya harus memberikan keputusan tentang layak tidaknya seseorang untuk lulus, dan bagi pendaftar sendiri mereka harus mempresentasikan kelayakan mereka untuk lulus, dua-duanya dalam waktu 15 menit.

Dan akhirnya keputusan itu dibuat. Semua berjalan sesuai rencana. Tepat 30 orang lulus masuk program S2 di Graduate school of Economics Osaka University. Sebagian yang lain tentu saja gagal. Di grup saya sendiri, yang terdiri dari 4 orang, kami menguji 8 orang dan meluluskan 3 orang diantaranya.