Jatuhnya harga TV layar tipis

2 10 2006

02_011.jpgMenjelang “perang akhir tahun”, harga TV layar tipis menurun dengan drastis. Dibanding harga tahun lalu, harga TV layar tipis tahun ini rata-rata turun sebesar 30 persen. Keadaan ini menyebabkan permintaan TV layar tipis meningkat. Di lain pihak keadaan ini kurang menguntungkan bagi produsen karena keuntungan per penjualan menjadi berkurang. Bagi konsumen sendiri, penurunan harga ini merupakan hal yang menguntungkan. Bahkan banyak diantara konsumen yang menganggap bahwa TV layar lebar bukan lagi barang mewah.

Dua tahun lalu, Sharp menjual produk mereka utuk ukuran 32 inci dengan harga sekitar 500 ribu yen (sekitar Rp 40 juta). Penjualan ukuran ini meningkat dengan pesat sehingga mengundang beberapa perusahaan lain untuk membuat produk dengan ukuran yang sama. Akibatnya harga turun menjadi 10 ribu yen per inci pada akhir tahun tsb. Pada akhir tahun ini harga di perkirakan turun menjadi 4 ribu yen per inci.

Bagi konsumen, turunnya harga TV layar tipis ini membawa angin segar. Selain banyak konsumen yang membeli baru, sekarang bermunculan konsumen yang membeli TV layar tipis untuk pembelian kedua. Diantara mereka membeli untuk dipasang di kamar tidur selain yang sudah dipasang di ruang tengah. Dilihat dari segi umur konsumen, generasi 20 - 30 puluh tahunan pun sudah banyak yang membeli TV layar tipis disamping pembeli utama yang berumur 60 tahun ke atas. Menurut perusahaan survey BCN, akhir tahun ini permintaan TV layar tipis diperkirakan meningkat 30 persen menjadi 2,2 juta unit.

Menurunnya harga TV layar tipis juga disebabkan oleh banyaknya pendatang baru ke pasar ini. Misalnya Funai Electric Co., Ltd yang bekerja sama dengan Yamada Denki. Biasanya pendatang baru ini menjual produk mereka dengan harga yang murah untuk merebut pangsa pasar. Perusahaan yang sudah eksis lebih dulu bereaksi dengan menurunkan harga produk-produk mereka untuk mempertahankan pangsa pasar masing-masing. Pada akhirnya persaingan harga pun tidak dapat dihindarkan.

Para produsen sendiri mengharapkan persaingan harga ini tidak berlanjut terus menerus. Terutama bagi produsen yang bermaksud mengeluarkan model baru.  Toshiba dan Canon yang mengembangkan sistem baru yang disebut SED harus menunda penjualan produk mereka sampai tahun depan untuk menunggu harga naik kembali.

Di Jepang, produk TV layar tipis sudah memasuki masa pertumbuhan tahap akhir dengan rasio kepemilikan sekitar 20 persen. Penurunan harga yang begitu drastis dirasakan terlalu cepat. Bisakah produsen mengembangkan teknologi atau strategi marketing baru untuk lepas dari persaingan harga ini?


Tindakan

Information

2 tanggapan ke “Jatuhnya harga TV layar tipis”

9 10 2007
Rika (15:01:53) :

Saat ini SONy punya produk Organic TV ya, pak. Kayak di situs ini:

http://news.yahoo.com/s/infoworld/20071001/tc_infoworld/92226_2

200 rb yen..Mahal juga… :D

-Rika-

Komentar:

Wah saya sendiri baru tahu soal ini. Ada minat beli. Yang saya dengar sekarang sudah dikembangkan teknologi TV paling tipis. Jadi bisa ditempel di dinding begitu saja. Katanya 4~5 tahun ke depan baru dipasarkan.

26 04 2008
oky (13:19:53) :

wah… kalo disini lagi hot-hotnya tuh mas.
warnet aja contohnya, mulai beralih dari CRT ke layar LCD?
what next? dari LCD ke LED… i hope, we hope. =)

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>