Model bisnis afiliasi sudah banyak dikenal orang. Dalam bisnis ini, para blogger memuat iklan barang-barang yang dijual oleh produsen. Diantara produsen dan blogger, ada perusahaan broker yang menghubungkan keduannya. Biasanya para blogger menjadi member perusahaan broker dan menerima informasi dan iklan barang-barang yang dijual dari broker. Kemudian para blogger yang telah menjadi member memasang iklan barang-barang tersebut di situs mereka. Bila terjadi pembelian melalui situs mereka, blogger mendapat keuntungan sebesar 3 persen dari harga penjualan.
Di Jepang kini mulai berkembang model bisnis baru yang disebut drop shipping. Sistem model ini cukup sederhana. Pertama produsen atau grosir membuat perjanjian dengan perusahaan broker tentang barang-barang yang akan dijual melalui web. Apabila terjadi kesepakatan, produsen atau grosir memberikan informasi tentang barang-barang mereka dan hak menjual barang-barang tersebut dengan harga produsen atau harga grosir kepada broker. Kemudian broker mengirimkan informasi barang-barang ini dengan harga broker kepada para blogger yang telah terdaftar sebagai anggota. Tentu saja harga broker akan lebih mahal dari harga produsen atau harga grosir. Kelebihan ini adalah keuntungan broker. Para blogger sendiri bebas menentukan barang apa saja yang akan mereka tampilkan pada situs mereka. Selain itu, mereka juga bebas menentukan harga jual barang-barang yang merekan tampilkan. Kelebihan dari harga jual blogger dengan harga broker akan menjadi pendapatan blogger.
Apabila terjadi pembelian oleh konsumen melalui situs salah satu blogger, secara otomatis layar mereka akan dipindahkan ke situs broker. Di sini pembeli akan menyelesaikan pembayaran dan meminta pengiriman barang. Broker kemudian membayarkan uang dari pembeli sebesar harga produsen atau harga grosir dan meminta supaya produsen atau grosir untuk mengirimkan barang yang dimaksud sesuai permintaan pembeli. Pada tahap akhir, blogger pemilik situs menerima keuntungan dari broker sebesar selisih harga blogger dan harga broker.
Kehadiran model bisnis baru ini mendapat perhatian yang besar terutama dari para top blogger yang selama ini ikut dalam bisnis afiliasi. Alasannya jelas, kebebasan menentukan harga jual mereka anggap sebagai kesempatan untuk mendapat keutungan yang besar. Dibanding model afiliasi yang keuntungannya hanya 3 persen dari harga jual, drop shipping dianggap lebih menjanjikan apabila blogger bisa menjual barang jauh diatas harga broker. Menurut perusahaan broker moshimo, dalam satu bulan semenjak mereka membukan perusahaan broker, sudah terdaftar sekitar 5 ribu blogger yang menjadi anggota.
Selain para blogger, drop shipping juga mendapat perhatian dari perusahaan produsen skala menengah ke bawah. Setidaknya ada dua alasan mengapa mereka tertarik dengan model bisnis baru ini. Pertama mereka tidak usah repot-repot mencari rute penjualan barang mereka. Dalam bisnis ini, barang-barang mereka mempunyai kesempatan besar untuk tampil di situs para blogger apabila barang-barang tersebut dianggap menarik. Alasan kedua yaitu berkurangnya resiko biaya gudang karena perusahaan broker hanya meneruskan pesanan pembeli kepada produsen.
Berhasil tidaknya model bisnis ini tergantung pada broker. Perusahaan broker tidak saja berfungsi sebagai grosir bagi para blogger, tapi juga mempunyai fungsi memberikan pelayanan kepada konsumen. Apabila broker memberikan pelayanan yang cepat dan dapat dipercaya sehingga memuaskan konsumen, bukan tidak mungkin bisnis ini akan menjadi pasar yang menjanjikan.
Tapi, untuk sampai berkembang, model bisnis ini masih meninggalkan beberapa pertanyaan. Pertama adalah masalah persaingan diantara para blogger sendiri. Apabila jumlah blogger yang ikut bisnis ini semakin banyak, bukan tidak mungkin mereka saling membanting harga sehingga mendekati harga broker. Akibatnya, daya tarik bisnis ini berkurang di mata para blogger karena keuntungannya menjadi sedikit. Masalah kedua adalah masalah moral para blogger sendiri. Misalnya mereka membesar-besarkan khasiat obat diet yang dijual di situs mereka padahal khasiat obat itu sendiri tidak sehebat itu. Dalam hal ini tentu saja yang dirugikan adalah konsumen. Bisakah pihak-pihak terkait menyelesaikan masalah-masalah ini? kita tunggu saja.






Komentar Terakhir