Drop Shipping, model bisnis baru para blogger

12 10 2006

buz012.gifModel bisnis afiliasi sudah banyak dikenal orang. Dalam bisnis ini, para blogger memuat iklan barang-barang yang dijual oleh produsen. Diantara produsen dan blogger, ada perusahaan broker yang menghubungkan keduannya. Biasanya para blogger menjadi member perusahaan broker dan menerima informasi dan iklan barang-barang yang dijual dari broker. Kemudian para blogger yang telah menjadi member memasang iklan barang-barang tersebut di situs mereka. Bila terjadi pembelian melalui situs mereka,  blogger mendapat keuntungan sebesar 3 persen dari harga penjualan.

Di Jepang kini mulai berkembang model bisnis baru yang disebut drop shipping. Sistem model ini cukup sederhana. Pertama produsen atau grosir membuat perjanjian dengan perusahaan broker tentang barang-barang yang akan dijual melalui web. Apabila terjadi kesepakatan, produsen atau grosir memberikan informasi tentang barang-barang mereka dan hak menjual barang-barang tersebut dengan harga produsen atau harga grosir kepada broker. Kemudian broker mengirimkan informasi barang-barang ini dengan harga broker kepada para blogger yang telah terdaftar sebagai anggota. Tentu saja harga broker akan lebih mahal dari harga produsen atau harga grosir. Kelebihan ini adalah keuntungan broker. Para blogger sendiri bebas menentukan barang apa saja yang akan mereka tampilkan pada situs mereka. Selain itu, mereka juga bebas menentukan harga jual barang-barang yang merekan tampilkan. Kelebihan dari harga jual blogger dengan harga broker akan menjadi pendapatan blogger.

Apabila terjadi pembelian oleh konsumen melalui situs salah satu blogger, secara otomatis layar mereka akan dipindahkan ke situs  broker. Di sini pembeli akan menyelesaikan pembayaran dan meminta pengiriman barang. Broker kemudian membayarkan uang dari pembeli sebesar harga produsen atau harga grosir dan meminta supaya produsen atau grosir untuk mengirimkan barang yang dimaksud sesuai permintaan pembeli. Pada tahap akhir, blogger pemilik situs menerima keuntungan dari broker sebesar selisih harga blogger dan harga broker.

Kehadiran model bisnis baru ini mendapat perhatian yang besar terutama dari para top blogger yang selama ini ikut dalam bisnis afiliasi. Alasannya jelas, kebebasan menentukan harga jual mereka anggap sebagai kesempatan untuk mendapat keutungan yang besar. Dibanding model afiliasi yang keuntungannya hanya 3 persen dari harga jual, drop shipping dianggap lebih menjanjikan apabila blogger bisa menjual barang jauh diatas harga broker.  Menurut perusahaan broker moshimo, dalam satu bulan semenjak mereka membukan perusahaan broker, sudah terdaftar sekitar 5 ribu blogger yang menjadi anggota.

Selain para blogger, drop shipping juga mendapat perhatian dari perusahaan produsen skala menengah ke bawah. Setidaknya ada dua alasan mengapa mereka tertarik dengan model bisnis baru ini. Pertama mereka tidak usah repot-repot mencari rute penjualan barang mereka. Dalam bisnis ini, barang-barang mereka mempunyai kesempatan besar untuk tampil di situs para blogger apabila barang-barang tersebut dianggap menarik. Alasan kedua yaitu berkurangnya resiko biaya gudang karena perusahaan broker hanya meneruskan pesanan pembeli kepada produsen.

Berhasil tidaknya model bisnis ini tergantung pada broker. Perusahaan broker tidak saja berfungsi sebagai grosir bagi para blogger, tapi juga mempunyai fungsi memberikan pelayanan kepada konsumen. Apabila broker memberikan pelayanan yang cepat dan dapat dipercaya sehingga memuaskan konsumen, bukan tidak mungkin bisnis ini akan menjadi pasar yang menjanjikan.

Tapi, untuk sampai berkembang, model bisnis ini masih meninggalkan beberapa pertanyaan. Pertama adalah masalah persaingan diantara para blogger sendiri. Apabila jumlah blogger yang ikut bisnis ini semakin banyak, bukan tidak mungkin mereka saling membanting harga sehingga mendekati harga broker. Akibatnya, daya tarik bisnis ini berkurang di mata para blogger karena keuntungannya menjadi sedikit. Masalah kedua adalah masalah moral para blogger sendiri. Misalnya mereka membesar-besarkan khasiat obat diet yang dijual di situs mereka padahal khasiat obat itu sendiri tidak sehebat itu. Dalam hal ini tentu saja yang dirugikan adalah konsumen. Bisakah pihak-pihak terkait menyelesaikan masalah-masalah ini? kita tunggu saja.





Intermezzo (Indian version of Thriller)

3 10 2006

Check this out, Indian version of Thriller

http://www.crackmuffin.com/html/Indian-version-of-Thriller.html

kocak abis!





Jatuhnya harga TV layar tipis

2 10 2006

02_011.jpgMenjelang “perang akhir tahun”, harga TV layar tipis menurun dengan drastis. Dibanding harga tahun lalu, harga TV layar tipis tahun ini rata-rata turun sebesar 30 persen. Keadaan ini menyebabkan permintaan TV layar tipis meningkat. Di lain pihak keadaan ini kurang menguntungkan bagi produsen karena keuntungan per penjualan menjadi berkurang. Bagi konsumen sendiri, penurunan harga ini merupakan hal yang menguntungkan. Bahkan banyak diantara konsumen yang menganggap bahwa TV layar lebar bukan lagi barang mewah.

Dua tahun lalu, Sharp menjual produk mereka utuk ukuran 32 inci dengan harga sekitar 500 ribu yen (sekitar Rp 40 juta). Penjualan ukuran ini meningkat dengan pesat sehingga mengundang beberapa perusahaan lain untuk membuat produk dengan ukuran yang sama. Akibatnya harga turun menjadi 10 ribu yen per inci pada akhir tahun tsb. Pada akhir tahun ini harga di perkirakan turun menjadi 4 ribu yen per inci.

Bagi konsumen, turunnya harga TV layar tipis ini membawa angin segar. Selain banyak konsumen yang membeli baru, sekarang bermunculan konsumen yang membeli TV layar tipis untuk pembelian kedua. Diantara mereka membeli untuk dipasang di kamar tidur selain yang sudah dipasang di ruang tengah. Dilihat dari segi umur konsumen, generasi 20 – 30 puluh tahunan pun sudah banyak yang membeli TV layar tipis disamping pembeli utama yang berumur 60 tahun ke atas. Menurut perusahaan survey BCN, akhir tahun ini permintaan TV layar tipis diperkirakan meningkat 30 persen menjadi 2,2 juta unit.

Menurunnya harga TV layar tipis juga disebabkan oleh banyaknya pendatang baru ke pasar ini. Misalnya Funai Electric Co., Ltd yang bekerja sama dengan Yamada Denki. Biasanya pendatang baru ini menjual produk mereka dengan harga yang murah untuk merebut pangsa pasar. Perusahaan yang sudah eksis lebih dulu bereaksi dengan menurunkan harga produk-produk mereka untuk mempertahankan pangsa pasar masing-masing. Pada akhirnya persaingan harga pun tidak dapat dihindarkan.

Para produsen sendiri mengharapkan persaingan harga ini tidak berlanjut terus menerus. Terutama bagi produsen yang bermaksud mengeluarkan model baru.  Toshiba dan Canon yang mengembangkan sistem baru yang disebut SED harus menunda penjualan produk mereka sampai tahun depan untuk menunggu harga naik kembali.

Di Jepang, produk TV layar tipis sudah memasuki masa pertumbuhan tahap akhir dengan rasio kepemilikan sekitar 20 persen. Penurunan harga yang begitu drastis dirasakan terlalu cepat. Bisakah produsen mengembangkan teknologi atau strategi marketing baru untuk lepas dari persaingan harga ini?