Pola Konsumsi Suami

29 09 2006

evt007.gifTidak seperti lelaki yang masih membujang, lelaki yang sudah menikah harus menyesuaikan pengeluarannya dengan kebutuhan istri dan anak-anak mereka. Walaupun demikian, pola berkonsumsi para suami bervariasi tergantung pada gaya hidup masing-masing. Hal ini terbukti dari hasil survey yang dilakukan oleh Yomiko Advertising Inc bulan juli lalu. Survey ini bersifat kualitatif dan dilakukan dengan cara internet survey. Responden adalah 1312 orang lelaki yang sudah menikah. Mereka ditanya tentang persepsi dan sikap mereka tentang pekerjaan, keuangan, mode, cinta/pernikahan, dan pendidikan anak yang meliputi 52 pertanyaan.

Surver ini menyimpulkan bahwa pola konsumsi suami dapat dibagi kedalam 5 kelompok:

1. Suami yang berkepribadian. Dalam segala hal, keluarga adalah prioritas utama. Kepribadian diri, istri, dan anak sangat dipentingkan.

2. Suami yang terikat kredit rumah. Tidak peduli dengan mode dan wanita di sekitarnya. Sangat menghidari perceraian dan bersikap konservatif. Sebagian sudah mempunyai rumah walapun belum lunas kreditnya.

3. Suami yang berpretasi dan elit. Sangat tertarik dengan mode, ingin selalu kelihatan muda. Tetapi sebisa mungkin menghindari perceraian. Menginginkan anak-anaknya pun mempunyai cara berpikir yang sama dengannya.

4. Suami yang ingin dianggap keren. Mode adalah prioritas utama. Inggin disukai oleh banyak wanita. Ada kemungkinan menyeleweng. Begitu memanjakan anak.

5. Suami yang kurang perhatian. Kurang begitu perhatian terhadap konsumsi istri dan anak-anaknya. Lebih suka tinggal di rumah.

Dari kelima kelompok diatas, kelompok 3 dan 4 menunjukan hasrat menkonsumsi yang paling tinggi. Di banding kelompok lain, kelompok suami berprestasi dan elit mempunyai rata-rata penghasilan yang paling tinggi. Untuk pengeluaran konsumsi anak, mereka sangat mengutamakan pengeluaran untuk konsumsi barang-barang yang bersifat pendidikan. Misalkan pengeluaran untuk membeli buku atau pengeluaran bimbingan belajar dan les musik. Terhadap pertanyaan barang apa saja yang dibeli untuk anak selama tiga bulan terakhir, kebayakan dari mereka menjawab buku cerita anak dan alat-alat olah raga. Singkatnya, dalam mengeluarkan uang untuk keperluan anak, bukan barang apa yang anak inginkan, tetapi barang yang berguna bagi pendidikan dan pertumbuhan anak menjadi pilihan utama.

Dilain pihak, kelompok suami yang dianggap keren mempunyai pola konsumsi yang bertolak belakang. Walaupun sudah menjadi suami, mereka ingin tetap dianggap sebagai cowok keren. Konsekuensinya perhatian mereka terhadap mode sangat tinggi. Begitu juga pengeluaran untuk anak kebanyakan adalah pengeluaran untuk pakaian. Tidak jarang para suami tipe ini memilihkan baju untuk anak-anak mereka. Bisanya pakaian yang mereka belikan untuk anak mereka adalah pakaian yang bermerek. Suami tipe ini juga suka memanjakan anak mereka. Mereka tidak akan pelit untuk membelikan mainan yang mahal untuk anak-anaknya. Mungkin kelompok inilah yang menjadi konsumen utama mainan anak-anak seperti Nintendo DS yang akhir-akhir ini sedang hit di pasaran.

Survey ini memang dilakukan di Jepang. Tapi ada kemungkinan kita termasuk dari salah satu kelompok suami diatas.





Brand Name (Tahu Cowok Macho)

28 09 2006

Nama adalah salah satu elemen yang sangat penting dari suatu brand atau merek. Memilih nama yang cocok untuk suatu brand dapat membawa kesuksesan bagi brand tersebut. Sebaliknya salah memilih nama dapat membawa kegagalan walaupun brand itu sendiri memiliki kualitas yang tinggi. Walaupun tidak ada teori baku dalam memilih nama, biasanya perusahaan berusaha memberikan nama yang bagus untuk brand mereka. Nama yang dipilih biasanya yang berhubungan dengan keindahan, kelembutan, kenyamanan dll. Cara lain untuk memilih nama yaitu dengan memakai nama yang menunjukan fungsi dari brand tersebut.

Bagi brand yang sudah establihed, dengan mengingat namanya saja kita akan teringat image yang terkandung dalam brand itu. Misalkan kalau ingat mobil volvo, kita akan teringat kata keselamatan, awet, dan kenyamanan. Atau kalau kita ingat sony, kita akan ingat entertaintment, praktis, walkman dll.

Bagi brand yang baru muncul, pemilihan nama sangat menentukan keberhasilan brand tsb. Biasanya bagi brand seperti ini kebanyakan orang belum tahu keberadaannya. Untuk menarik perhatian orang banyak dipilih nama yang berbeda dari biasa. Misalnya nama yang unik atau lucu sehingga bisa memberikan impact yang besar bagi yang melihatnya.

Salah satu contoh bagus dari brand baru yang berhasil dengan namanya yang unik adalah produk tahu Jepang Otokomae Toufu. Otokomae bisa diartikan cowok macho. Otokomae toufu artinya tahu cowok macho. Perusahaan ini baru didirikan pada Maret tahun lalu. Untuk pasar jepang yang sangat ketat persaingannya, Otokomae adalah perusahaan yang tumbuh sangat pesat. Pada awal produksi, perbulan diproduksi sekitar 113 ribu pak tahu.  Kini produksi perbulan sudah mencapai 1 juta 260 ribu pak perbulan, lebih dari sepuluh kali lipat dari produksi awal.

otokomae.jpg

 Tentu saja keberhasilan tahu ini tidak berasal dari namanya saja. Rasanya yang sedikit kental dan mirip puding digemari banyak orang. Namun dengan namanya yang unik ini, tahu Otokomae jadi dikenal di seluruh Jepang dan banyak orang yang ingin mencobanya. Bahkan tidak sedikit yang membeli berkali-kali. Promosi dan publikasi pun dilakukan dengan gencar dengan menggunakan berbagai macam media.

Tahu Otokomae masih akan terus berkembang. Dua brandnya, (kaze ni fukarete toufuya johnny= diterpa angin si penjual tahu johnny) dan (kenka joutou yakko yarou = si jago berantem), sudah hit di pasaran. Kini Shingo Itou, direktur Otokomae, sedang mengembangkan produk baru yang diharapkan bisa melebihi dua brand sebelumnya. Bagi penggemar tahu, produk selanjutnya dari Otokomae adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Dan tentu saja namanya.